Racun-3

845 Kata

Prof. Wibisana tampak lebih kurus, tongkat di tangan kanannya mengetuk pelan lantai marmer. Prabu tanpa ragu menghampiri, memegang lengan ayahnya untuk membantunya duduk di sofa besar. Ibu Dahayu tersenyum tipis, matanya menyiratkan kelelahan, seakan perjalanan dari Bandung ke Jakarta menorehkan lebih banyak lelah di hati daripada di tubuh. "Kenapa Ayah tidak bilang mau datang?" tanya Prabu perlahan, berusaha menahan gejolak di dadanya. Ibu Dahayu yang menjawab lebih dulu, suaranya jernih namun mengandung ketegangan. "Habis dari rumah sakit bertemu dengan dokter. Tapi... disana kami malah dengar cerita tidak sedap lebih dulu." Prabu membeku. Ia menatap ke arah ayahnya, dan melihat anggukan lambat dari pria sepuh itu. "Kami bertemu dengan Pak Prasetyo," kata Prof. Wibisana tenang. "Belia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN