Ucapan itu cukup untuk membuat nafsu makan Rania menguap. “Rania, maafkan dia. otaknya memang seperti itu, aku sampai lelah mendidiknya.” “Tidak apa, Nek.” “Ayolah, Sayangku. Jangan cemberut, makan saja oke?” Rania berusaha tampak biasa saja, tapi dia benar-benar butuh waktu merenung. Lelah juga disini dikatai seperti itu ya. Jadi Rania mencoba untuk pergi ke kamar, mencari alasan dan meyakinkan Helena kalau dia baik-baik saja. Akhirnya Helena pun mengizinkannya pergi. Rania naik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Namun, di koridor lantai atas, Rania kembali bertemu Amy yang sedang berdiri di depan pintu kamar Lucien. Wanita itu bersandar santai di dinding, menatap Rania seolah hendak membaca lapisan terdalam isi kepalanya. “Kamu tahu,” katanya perlahan, “beberapa warisan tidak diwar

