Memangnya seenak itu...? Dita membuka matanya lebar-lebar, air mata entah kenapa ikut mengalir bersama air shower. Bukan karena sedih, tapi karena... sial. Kenapa Pak Bram? Kenapa bukan cowok lain? Atau kekasihnya saja gitu? Dan omong-omong, itu bukan mimpi pertama. Sejak sebulan lalu, sejak ia secara tidak sengaja mendengar suara Bram bercinta dengan kekasihnya dari unit sebelah, mimpi-mimpi itu mulai datang, pelan, mengusik, dan semakin sering. Tapi yang semalam… paling menghantam. Tubuhnya masih bisa merasakan gemanya. Ah iya, tragedi lingerie itu juga tidak membantu. Sejak insiden memalukan, mereka nyaris tidak pernah ngobrol lagi. Dita terlalu malu, Bram terlalu kaku. Di kampus, mereka hanya bertemu saat Bram mengajar. Itu pun sekadar tatap dan bicara soal akademik. Datar. Hamba

