Tiga sahabat itu akhirnya duduk di bangku panjang kayu, memandangi hasil kerja mereka. Nafas terengah, tangan kotor tepung, tapi wajah-wajah mereka bercahaya. Pundi-pundi uang memang bukan segalanya, tapi sore itu, sukses terasa nyata. “Ra, lo pulang aja sana, kasihan tuh laki lo udah nunggu kan sama anak lo, mana lagi hamil. Gue aja yang di sini,” ujar Tasha seraya melirik ke arah parkiran yang mulai lengang. Rania sempat menolak, bersikeras ingin menunggu hingga acara benar-benar selesai. Tapi tatapan Tasha yang serius, dan gerakan tangannya yang melambai ke arah perut Rania membuatnya luluh. Memang, kandungannya terasa mulai berat dan tubuhnya lelah. Akhirnya, Rania menghela napas, menyentuh lengan Tasha. “Lo yakin bisa sendiri?” “Bisa. Gue ini co-founder juga, inget?” Dengan tawa

