Gairah yang Bergeser-3

1176 Kata

Di tengah kebersamaan itu, Prabu akhirnya keluar dari ruang kerjanya. “Nak, sini, makan bareng-bareng,” panggil Ibu Dahayu begitu melihatnya muncul, tangannya melambai pelan dari arah meja makan balkon. Tapi Prabu hanya menggeleng singkat. “Harus keluar, Bu.” “Loh, sebentar lagi gelap dan jam makan malam,” ujar Ibu Dahayu sambil menoleh ke langit yang mulai berubah jingga. “Gak papa,” jawab Prabu. “Ada yang harus dilakukan.” Rania menahan diri untuk tidak bereaksi apa-apa. Tapi dalam pikirannya, ia langsung menebak: pasti akan menemui Mireya, memberikan bunga itu, dan melanjutkan ‘permintaan maaf’ seperti yang sempat ia dengar tadi. Terserahlah. Rania menunduk lagi, menyuapi Daisy yang asyik memainkan krim keju. Toh, ia masih punya bagian kecil yang indah sore itu—berbagi tawa dan ca

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN