Rakha mengerutkan kening. “Kok bisa sama lo sih, Kak?” “Diasuh, biar skripsi gue cepet lulus,” jawab Rania ketus sambil menyeruput tehnya. Rakha menaikkan alis dengan gaya sok paham. “Walahhhh… Lo gak jadi ani-ani-nya kan?” “APA MAKSUD LO?!” Rania langsung berdiri, nyaris tersedak. “Lo tau bahasa gitu dari mana, hah?!” “Tenang napa, Kak,” sahut Rakha santai, mengangkat tangan seperti anak baik. “Bahasa gitu udah ada di mana-mana, tinggal buka t****k juga ada. Lagian gue khawatir doang sama lo.” Dengan santai, bocah SMA itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebatang cokelat, disodorkannya ke kakaknya. “Nih. Biar gak stres.” Rania memutar bola mata, tapi tetap mengambil cokelat itu. “Ngomongnya nyebelin, tapi masih inget kakaknya ya…” Rakha menyeringai. “Kalau jadi sama Pak Rektor juga g

