Rania menoleh ke arah dua pengasuh yang berdiri sopan di dekat lobi. “Mbak, saya ajak Daisy keluar dulu ya. Pulang nanti sore. Mbak saja yang masak makan malam, ya?” Salah satu dari mereka mengangguk cepat. “Baik, Bu. Hati-hati di jalan.” Rania membuka pintu mobilnya, membantu Daisy duduk di seat car dengan sabuk pengaman mungil yang ia pasangkan pelan. “Eh, mau ke cafe Bunda gak? Di sana ada ice cream. Banyak rasa. Tapi kalau Daisy nangis, gak boleh dapat, ya?” Daisy langsung mengangguk keras dengan mata membulat, “Enggak nangiisss! Cama mau ice keem rasa pink!” “Strawberry dong, pinter banget anak Bunda,” Rania mencubit hidungnya gemas sebelum menutup pintu dan masuk ke kursi pengemudi. Saat mobil melaju keluar dari area apartemen, Rania melirik ke kaca spion. Daisy sudah sibuk ber

