“Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kuliah boleh jalan, tapi kesehatan tetap nomor satu,” kata Papi Dimas sambil menuang air ke gelas Aleeya. “Apalagi sekarang kamu juga harus mengurus suami.” Aleeya tersenyum kecil. “Iya, Pi. Aku jaga kesehatan kok. Mas Kai juga sering ingetin.” “Sekarang Kak Aleeya susah banget diajak ketemu,” celetuk Adzriel sambil mengaduk minumannya. “Kalau nggak di kampus, ya nongkrong di perpustakaan. Padahal kan bisa ke rumah. Apalagi pas Mas Kaivan lagi di luar kota.” Aleeya menoleh, tertawa kecil. “Maaf ya, Zdriel. Jadwalku beneran lagi padat banget. Deadline tugas numpuk.” Adzriel mengangkat alis, pura-pura manyun. “Alasannya selalu itu.” “Iya deh, iya,” sahut Aleeya sambil tersenyum. “Mulai minggu depan aku bakal lebih sering ke rumah, janji. Minimal tiap

