Nabila mengucek kedua matanya yang terasa berat untuk dibuka. Wanita itu terduduk sembari memijat pelipis untuk sedikit mengurangi rasa sakit di kepala. Ia sendiri tidak ingat mengapa kondisinya jadi seperti ini. Tangan wanita itu meraba ke samping ranjang, tempat di mana Elang seharusnya tidur, tapi tidak ada apa pun di sana. Jangankan sosok Elang, seprai di bagian ranjang sebelahnya saja masih sangat rapi, seakan tidak baru saja ditiduri. Nabila masih linglung. Ia bawa tangan kanannya untuk meraih botol minum di nakas samping kasur. Dengan napas yang terasa pendek, wanita tersebut terduduk perlahan sembari menyandarkan punggung ke sandaran ranjang. Ia meneguk isi botol itu hingga habis setengah. Entah kenapa, pagi ini mulutnya terasa lebih kering. Nabila mencoba mengingat apa yang

