Suasana hening sesaat sebelum Saraswati melangkah lebih dulu. Kakinya sedikit berjinjit ketika melewati pecahan beling dan nasi yang berceceran di lantai. Rangga turut mendekat dengan tatapan yang tidak lepas dari lantai. Otak pria itu membuat berbagai spekulasi tentang apa yang mungkin terjadi beberapa saat sebelum dirinya datang. Walau Elang panik sesaat, tapi ia buru-buru menormalkan raut wajahnya. Badannya ia bawa untuk membungkuk sekilas, menyapa sepasang suami istri yang kini sudah menjadi mertuanya. Gestur tubuh Elang tersebut bukan pertanda hormat, melainkan formalitas belaka. “Ini kenapa ada piring pecah? Jatuh apa gimana?” Saraswati bertanya. Nabila yang tadinya terpaku di tempat kini bergerak cepat menghampiri kedua orang tuanya. Betapa bersyukurnya Nabila karena orang tuanya

