Hans berjalan beberapa langkah di depan Senja. Ia berhenti di dekat jendela yang berada di ujung koridor. Lampu koridor terlihat redup, kalah oleh sinar matahari yang merangsek masuk. Tangan Hans terjulur menunjuk bangku besi di hadapannya, mempersilakan Senja duduk. Di sana, hanya ada dua bangku besi yang diletakkan berhadapan. “Duduk, Senja.” Mengangguk, Senja menurut. Ia duduk perlahan, meletakkan kedua tangannya ke atas perut. Perempuan tersebut menunggu sang mantan mertua membuka percakapan. Hans menunduk menatap lantai. Ia diam cukup lama. Lantas, pria itu mulai meyakinkan diri menatap wajah Senja, menerobos manik mata cokelat legam milik mantan menantunya. “Saya hanya ingin tahu satu hal, Senja.” Hans memulai, kedua tangannya tertaut di atas pangkuannya. Tidak ada sahuta

