"Bukannya kehilangan dia lebih bagus, Kak? Aku jadi bebas. Aku nggak harus tertekan karena diancam sama orang nggak waras kayak kamu!” Senja berucap, menantang. Kata-kata itu memang sengaja diucap untuk memancing kemarahan Elang. Meskipun dalam sisi lain, Senja juga tidak ingin kehilangan bayi itu. Terlalu jahat baginya jika harus melenyapkan sesuatu yang sudah menjadi bagian dalam dirinya. Elang membisu. Namun, dari tatapannya, jelas tidak ada keramahan sedikit pun. Rahangnya mengeras. Giginya saling gemeletuk, menahan amarah yang siap meluap. “Saya bisa melakukan apa pun, Senja.” Elang berkata sambil memiringkan kepalanya. Ia berbisik di salah satu telinga Senja. “Sekalipun tidak manusiawi.” Deg! Tubuh Senja membeku. Bisikan itu pelan, ringan. Namun, siapa sangka jika suasananya

