Kalimat Elang sukses membuat Senja terkejut bukan main. Itu bukanlah pertanyaan, melainkan sebuah pengakuan dengan keyakinan penuh. Entah dari siapa Elang mendengar kabar tersebut, yang jelas Senja makin berkecamuk begitu mendengar ucapan itu. “Iya, ‘kan? Masih nggak mau ngaku?” Elang meminta validasi ketika perempuan yang duduk di sampingnya tidak kunjung menjawab. Senja tersenyum miring. “Pertanyaan yang penuh percaya diri, ya,” pujinya dengan dibuat-buat. “Sayangnya, apa yang Kak Elang ucapkan tadi itu nggak bener.” Kedua alis Elang saling bertaut, membentuk lipatan ringan di dahi. Ia menggulung lengan kemejanya hingga siku. “Tidak perlu menyangkal, Senja. Saya tahu itu anak saya.” Ingin rasanya Senja memukul pria itu sebagai bentuk luapan kekesalannya pada pria yang terus men

