Rose menekan d**a dengan tangan gemetar, mencoba menahan sesak yang makin menusuk. Tanpa berpikir panjang lagi, ia berlari keluar dari ruang baca. Nafasnya memburu, gaunnya terayun-ayun mengikuti langkah tergesa. Lorong demi lorong ia lewati, derap langkahnya memantul di dinding-dinding sunyi rumah itu. Hatinya hanya punya satu tujuan—keluar dari tempat ini, menuju rumahnya, menuju kebenaran yang harus ia pastikan sendiri. Tangannya terulur membuka pintu utama dengan kasar. Udara luar yang lebih dingin menerpa wajahnya, tapi ia tak peduli. Dengan cepat ia menuruni anak tangga menuju halaman depan, dan matanya menangkap seorang sopir yang tengah berjaga dekat deretan mobil. “Tolong,” suara Rose serak, terengah. “Antarkan aku ke rumahku sekarang. Aku mohon.” Sopir itu menegakkan tubuh, w

