Pintu kamar itu berderit pelan terbuka. Rose yang sedang duduk di depan cermin sontak menoleh, dan detik berikutnya napasnya tercekat. Eros berdiri di ambang pintu dengan setelan jas hitam pekat, dasinya rapi, aura karismanya seolah memenuhi seluruh ruangan. Namun matanyaâmata tajam yang biasanya dinginâsaat ini justru terhenti penuh keterkejutan ketika melihat sosok Rose. Ia tak segera melangkah. Seakan tubuhnya membeku. Rose meremas jemari di pangkuannya, gugup. âKauâĶ menatapku seperti itu, Eros,â ujarnya pelan, pipinya memerah. Eros akhirnya melangkah, langkahnya berat tapi pasti. Ia berhenti tepat di hadapan Rose yang masih duduk, lalu menunduk perlahan, tatapannya tak bergeser sedikit pun. âKauâĶâ suaranya nyaris serak. âAku pikir aku sudah terbiasa melihatmu. Tapi ternyata aku sa

