Kilap matahari pagi menembus tirai tipis kamar Eros, jatuh lembut ke lantai marmer dan permukaan ranjang yang masih sedikit berantakan. Rose berdiri di hadapan Eros, jemarinya sibuk merapikan dasi pria itu. Meski tangannya sudah terbiasa dengan rutinitas ini, ada rasa aneh yang bergetar di dadanya—karena kali ini mereka melakukannya di kamar Eros, bukan kamarnya sendiri. Pertama kali ia terbangun dengan tubuh Eros di sisinya, dan entah kenapa, itu membuat jantungnya berdebar lebih kencang daripada biasanya. “Jangan banyak gerak,” gumam Rose pelan saat Eros sengaja menarik dagunya mendekat, membuat dasi itu miring lagi. Senyum miring Eros muncul. “Aku hanya ingin melihat wajah istriku dari dekat.” Rose mendengus sambil mengetuk d**a Eros pelan. “Kalau begini terus, dasimu tak akan pernah

