Malam itu seolah benar-benar hanya milik mereka. Setelah ciuman panas di ayunan, Eros tidak memberi Rose kesempatan untuk mundur. Nafasnya memburu, langkahnya mantap ketika mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongan kokoh. Rose bisa merasakan d**a bidangnya bergetar, detak jantungnya kencang, panas tubuhnya merambat ke kulitnya sendiri. Ia menempel erat, tak mampu melawan, dan mungkin… tak ingin melawan lagi. Begitu pintu kamar tertutup, dunia seakan lenyap. Eros meletakkan Rose perlahan di ranjang, tubuhnya langsung menunduk menutup ruang di antara mereka. Sorot matanya dalam, penuh gelora bercampur kerentanan yang membuat Rose terikat tanpa daya. “Rose…” suaranya berat, hampir seperti erangan. Jemarinya mengusap pipi wanita itu, turun ke rahang, lalu menangkup wajahnya. “Ingatlah bah

