Ruang makan utama keluarga Rajendra berkilau dalam cahaya lampu kristal, meja panjang berhias porselen putih dan perak tua yang tampak berusia puluhan tahun. Rose duduk di samping Eros, disampingnya ada Yamashita yang duduk bersebelahan dengan Darren. Sedangkan di sebrang meja, berhadapan lurus dengan Eros ada Edrico, dilanjut Elmanda yang duduk ditengah lalu Afrodita diujung. Sementara Warren Rajendra duduk di kursi utama—sorot matanya tajam, seolah menimbang setiap gerak-geriknya. Elmanda, dengan senyum tipis penuh arti, memecah keheningan lebih dulu. “Gaunmu indah, Rose. Tapi tentu, pakaian hanyalah kulit luar. Seseorang yang lahir sederhana tetap tidak cocok meski mengenakan sutra paling mahal.” Nada suaranya manis, tapi tiap kata seperti jarum. Rose menunduk sesaat, pipinya memanas

