Cahaya pagi menembus tirai gading kamar utama, menumpahkan warna keemasan di ujung ranjang besar yang masih hangat oleh sisa malam. Rose terbangun perlahan, kelopak matanya berkedip malas, sementara udara dingin dari pendingin ruangan terasa berbaur dengan aroma lembut kopi hitam dan teh yang baru diseduh. Eros sudah berdiri di dekat jendela, kemeja putihnya belum sepenuhnya dikancingkan, lengan bajunya digulung hingga siku. Ia tengah menatap halaman bawah—tenang, tapi jelas pikirannya tak benar-benar di sana. Rose bangkit, menarik selimutnya hingga sebatas pinggang. “Kau sudah bangun? Sejak kapan?” suaranya serak lembut, masih setengah mengantuk. “Sekitar sejam lalu.” Eros menoleh sekilas, lalu berjalan mendekat sambil membawa satu cangkir teh. “Kupikir kau masih perlu tidur setelah se

