Siang itu, Rose duduk termenung di tepi ranjang. Tirai kamar bergoyang perlahan, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk, tapi tak sedikit pun mampu menghangatkan ruang dingin yang membelenggunya. Pikirannya masih kacau sejak pertemuannya dengan Afroditea pagi tadi—ucapan wanita itu berputar-putar di kepalanya, menekan harga diri yang berusaha ia jaga. Bersamaan dengan itu, suara notifikasi ponselnya berdering keras, membuat jantung Rose berdegup kencang. Ia meraih benda itu dari balik bantal, menatap layar: Clara. “Clara?” suara Rose keluar pelan, waspada. “Rose…” Clara langsung terdengar terengah, jelas terburu-buru. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Wartawan—mereka mendatangi Velle Florist lagi. Mereka mengepungku sejak setengah jam lalu, melontarkan pertanyaan-pertanyaan gil

