Bab 2

1029 Kata
Pagi harinya, karena ada kelas pagi, Sera dan Evelyn langsung bersiap, Eve yang sudah terbiasa menginap bahkan tidak sungkan memilih baju Sera dan terkadang tidak di kembalikan olehnya. Dan Sera sendiri tidak pernah keberatan karena seringnya Eve juga membelikannya baju baru untuknya setiap dia berbelanja di mall. "Tumben sekali dua gadis pagi-pagi sudah bangun." Ucap Anna. Nenek dari Sera. Yang itu berarti ibu dari Leo. "Kami ada kelas pagi, Oma." Ucap Sera sambil terkekeh. "Pantas saja!" "Waah. Aku juga terkejut melihat kedua gadis ini yang bangun pagi ketika sudah bersama seperti ini." Ucap Rosa yang menghampiri meja makan. Evelyn hanya menanggapinya dengan senyuman, berbeda dengan Sera yang terkekeh karena perkataan tante-nya. "Di mana suamimu, Ros?" Anna melihat belum ada tanda-tanda putranya turun. "Mungkin sebentar lagi, Ma. Tadi dia sedang bersiap." Jawabnya yang di angguki oleh Anna. "Sera, tadi ayahmu menghubungi Opa dan mengatakan untuk membalas pesannya." Ucap Andreas, kakek dari Sera. "Hm.." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Sera karena dia malas jika harus membahas ayahnya. Andreas sendiri tidak mengatakan apapun lagi karena tau bagaimana hubungan anak dan cucunya ini. Sedangkan Evelyn hanya diam saja, dan hanya menyimak perkataan random di meja makan sana. Tak lama Leo muncul yang membuat semuanya tersenyum, dia memang sangat cuek, bukan hanya kepadanya. Bahkan kepada keluarganya sikapnya dingim dan jarang sekali menampilkan senyumnya. Evelyn mengatur nafasnya, entah kenapa pagi ini jantungnya berdetak dengan cepat saat melihat Leo. "Sialan sekali! Kenapa otakku memiliki ingatan yang kuat sampai kejadian semalam tidak bisa ku hilangkan." Batin Evelyn, Dia tidak berani menatap Leo karena takut dia menyadari jika dirinya gugup jika melihatnya. "Menyebalkan sekali." Gumam Evelyn dengan pelan namun bisa di dengar oleh Sera. "Kenapa?" Tanya Sera yang membuat Evelyn malah terkejut sendiri. "Tidak apa!" Ucap Evelyn. "Aku mendwngar gumamanmu, jangan membohongiku. Siapa yang menyebalkan" tanya Sera yang memaksa. "Ada apa, Eve?" Tanya Andreas yang membuat Evelyn terkejut dan menggeleng. "Tida apa-apa, Opa." Ucap Evelyn tersenyum. "Apa sih?" Sera malah masih mendesak Evelyn, jelas saja rasanya dia ingin menarik rambutnya saat ini. "Kau yang menyebalkan!" Ucap Evelyn dengan pelan. "Jangan membahasnya di sini. Sialan!" Umpatnya tepat di telinga Sera yang akhinrya dia terkekeh karena membuat Evelyn kesal. Setelah sarapan. Leo mengantar istrinya ke butiknya. Rosalina Collin, wanita yang dipersunting Leo satu tahun yang lalu ini adalah seorang desainer terkenal di negara ini. Mereka menjalin hubungan selama tiga tahun dan memutuskan menikah dan sudah menjalani pernikahan selama satu tahun, mereka belum memiliki anak meskipun sebenarnya Leo sudah sangat menginginkannya. "Sayang, lusa aku ada undangan ke pusat kota, acaranya malam. Mungkin aku akan menginap saja." Ucap Rosa memberitahu yang di angguki oleh Leo. "Hati-hati dan jangan lupa mengabariku jika sudah sampai." Ucap Leo. Setelah sampai, tidak lupa Leo mencium binir istrinya yamg membuat Rosa tersenyum. "Semangat kerjanya dan jangan nakal." Ucap Rosa yang membuat Leo akhirnya terkekeh. "Nakal-ku hanya padamu." Ucap Leo. Rosa tertawa namun dia turun dari mobil suaminya. Suaminya memang sangat cuek dan dingin, namun tidak kepadanya. Untuk itu dia sangat beruntung memilikinya dan sangat percaya kepadanya. Berbeda dengan kedua wanita yang sedang di kampus ini, Sera menagih cerita ketika tasi pagi Evelyn seperti sedang kesal namun dia tidak tau kesal dengan siapa. "Aku hanya kesal dengan Arya. Tadi pagi dia tidak membalas pesanku." Ucap Evelyn sebagai alsannya. "Tumben sekali Arya tidak membalas pesanmu? Biasanya terbalik. Kau yang tidak pernah membalas pesannya." Sindir Sera. "Ternyata kau juga menyebalkan." Ucap Evelyn. Sera terkekeh namun lalu menggandeng sahabatnya untuk ke kantin sebelum masuk ke dalam kelas. "Memangnya kau sudah mencintai Arya? Tumben sekali kau mengirimkan pesan untuknya?" Tanya Sera. Dia sangat tau sahabatnya ini tidak menyukai Arya. Namun entah kenapa dia malah menerimanya sebagai kekasihnya yang bahkan sudah menjalani hubungan selama hampir satu tahun ini. "Belum, hanya mengirimkan pesan agar seperti pasangan pada umumnya." Jawab Evelyn dengan santai. "Lagi pula kau bodoh sekali, kenapa kau tidak mencintainya. Padahal dia pria tertampan dan terkenal di kampus ini." Ucap Sera yang aneh dengan Evelyn. "Aku juga wanita tercantik di kampus ini." Jawabnya. Sera terkekej karena memang Evelyn juga memiliki julukan wanita tercantik di kampus. "Belum satu tahun aku menjalin hubungan dengannya. Santai saja dulu." Ucap Evelyn "Itu waktu yang lama, Eve." Sera menggelengkan kepalanya pelan ketika Evelyn malah membalas perkataannya dengan mengangkat kedua bahunya. Tidak ada yang tau jika ada alasan lain Evelyn menerima Arya sebagai kekasihnya dalam waktu yang memang cukup lama. Evelyn sebenarnya mencintai orang lain, hanya saja perasaannya bertepuk sebelah tangan karena pria yang disukai oleh Evelyn ternyata menikah dengan wanita lain. Evelyn sangat patah hati mendengar bahkan dia melihat sendiri pria itu menikah dengan wanita lain. Demi menghilangkan perasaan cintanya. Evelyn terpaksa menerima perasaan cinta Arya yang saat itu kebetulan memintanya untuk menjadi kekasihnya. Evelyn menerimanya dan berharap jika cintanya kepada pria beristri itu akan hilang dan dirinya mencintai Arya. Namun dalam waktu hampir satu tahun ini, bukannya Evelyn mencintai Arya, namun rasa cintanya kepada pria beristri itu malah semakin membesar. Dia benar-benar tidak bisa menghilangkan perasaan cintanya, namun di juga tidak mungkin bisa bersamanya karena dia sudah memiliki istri. Saat mereka asik mengobrol. Yang tadi dibicarakan oleh mereka menghampirinya. Arya memang sengaja ke kantin untuk mencari kekasihnya, biasanya sebelum masuk kelas. Dia tau kebisaan kekasihnya adalah pergi ke kantin bersama Sera. Tidak ingin menjadi obat nyamuk, Sera memilih untuk ke kelas terlebih dahulu dan meninggalkan Evelyn dan Arya di kantin berdua. "Kalau Evelyn mengirimkanmu pesan, cepatlah di balas, dia mengomel tadi." Ucap Sera kepada Arya sebelum dia pergi namun Arya malah mengerutkan dahinya. "Kau mengirimkan pesan untukku?" Tanya Arya. "Iya." Jawab Evelyn santai. Padahal dia tidak mengirimkan pesan apapun kepadanya. Arya mengambil ponselnya dan mengeceknya namun tidak ada pesan masuk dari Evelyn. "Tidak ada pesan darimu, Sayang." Ucap Arya yang bahkan menunjukkan ponselnya. "Masak sih?" Tanya Evelyn yang juga pura-pura melihat ponslenya. "Astaga. Ternyata belum aku kirim." Ucap Evelyn yang jelas saja berbohong. "Aku tidak mungkin jika tidak membalas pesanmu, pesan darimu bahkan yang aku tunggu-tunggu." Ucap Arya namun Evelyn hanya tersenyum. "Pulang kuliah kita jalan ya." Ajak Arya yang di angguki saja oleh Evelyn. Arya tersenyum dan mencium pipi Evelyn karena gemas dengannya, dia sangat beruntung karena bisa memiliki kekasih seperti Evelyn, wanita sangat cantik dan banyak di kagumi oleh pria di kampus ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN