"Jika ayahmu belum pulang, menginaplah lagi di mansion!" Ucap Sera ketika mereka ingin pulang.
"Iya!" Jawabnya dengan santai. Evelyn memang lebih suka menginap di mansion Sera karena di sana menurutnya ramai orang dibandingkan di mansionnya sendiri.
Evelyn hanya tinggal dengan ayahnya, hanya saja ayahnya terkadang suka ke luar negeri untuk bisnis, sebenarnya bukan suka, melainkan memang pusat kantornya ada di sana. Untuk itu ayah Evelyn seeing meninggalkan Eve sendirian di mansion.
Ibu dari Evelyn masih hidup namun dia sudah memiliki suami lagi, mereka berpisah saat Eve masih remaja. Dia sendiri tidak tau apa penyebab pisahnya orang tuanya, hanya saja memang dulu Evelyn sering mendengar orang tuanya bertengkar.
Setelah selesai bersiap, Sera pergi lebih dulu karena Evelyn mengatakan ingin pergi dengan Arya.
"Kau tau ini adalah sangat langka." Ucap Arya namun Evelyn tau maksutnya.
"Aku memang tidak begitu suka berkencan, jika di kampus kan kita bertemu juga setiap hari." Jawabnya.
"Berbeda, Sayang! Kalau di kampus tidak bisa melakukan apapun." Ucap Arya terkekeh.
"Mau melakukan apa memangnya? Jangan aneh-aneh! Aku tidak akan mau!" Balasnya.
"Ck! Kalau kita keluar setidaknya aku bisa menggandeng tanganmu dan memelukmu, jika di kampus kau mana mau, tapi jika di luar kau mau." Ucap Arya karena memang benar, Evelyn tidak pernah mau bahkan jika di gandeng sekalipun.
Jika dia memeluk Evelyn pun tidak bisa dan mungkin hanya merangkulnya. Untuk mencium pipi Evelyn saja dia harus mencuri-curi dan benar-benar harus tempat yang sepi, karena kalau tidak. Dia pasti akan mengamuk.
Hubungan mereka hampir pernah kandas karena itu, dan Arya tidak mau terulang lagi karena memang dia sangat mencintai Evelyn.
Mereka memutuskan untuk jalan-jalan di pusat pembelanjaan terbesar di sana.
Mereka ingin menonton film dan juga ada yang ingin mereke beli.
Namun saat di restoran, Evelyn terkejut karena bertemu dengan paman sahabatnya yang sedang meting dengan kliennya.
Leo sendiri juga sempat melihat Evelyn bersama seorang pria namun dia tidak terlalu memperhatikannya.
"Sedang melihat siapa?" Tanya Arya yang menyadari pandangan Evelyn ke arah lain.
"Anak kecil itu, dia sangat memggemaskan." Ucap Evelyn dengan asal. Dia tadinya terkejut karena ketahuan sedang memperhatikan seseorang dan memang dia sedang memperhatikan Leo,
Bahkan tatapan mereka sempat bertemu hanya saja Leo langaung memutuskannya karena dia sedang berbicara dengan kliennya.
"Kalau kita menikah, kita akan membuatnya yang banyak." Ucap Arya yang membuat Evelyn melotot.
"Yakin sekali kau menikah denganku." Ucapnya.
"Yakin! Aku mencintaimu. Kalau hubungan kita baik-baik saja. Aku pastikan kita akan sampai menikah dan hidup bersama selamanya."
"Itu masalahnya! Jika hubungan kita akan terus baik-baik saja. Mana tau kau melakukan hal aneh-aneh dan akhirnya kita menjadi berpisah." Ucap Evelyn.
"Itu tidak mungkin! Aku sudah kapok membuatmu marah. Aku tidak akan melakukan apapun yang membuatmu marah." Ucap Arya namun Evelyn hanya tersenyum.
"Termasuk posesif juga. Aku tidak suka." Ucapnya yang di angguki saja oleh Arya.
Sebenarnya padahal dia posesif pun wajar saja, karena memang Evelyn sangat cantik dan bahkan banyak yang menyukainya di kampus.
Dia saja yang beruntung bisa menjadikannya kekasih, namun dia tidak mau menunjukkan keposesifannya karena Evelyn tidak suka di kekang.
Evelyn sendiri sebenarnya seharusnya merasa beruntung memiliki kekasih seperti Arya, memang terlihat jika dia sangat mencintainya dan bahkan selalu menurut kepadanya, dia sangat jarang membuatnya marah, dan jikapun Arya membuatnya marah, dia seperti sudah kapok dan tidak mengulanginya lagi. Untuk itu hubungannya bertahan sampai hampir satu tahun ini.
Setelah makan, Evelyn memutuskan untuk mengajak Arya pulang karena jujur dia merasa kurang nyaman saat berada satu restoran dengan Leo, apalagi Leo juga sedari tadi sering melihat ke arahnya seperti sedang mengawasinya.
Arya sendiri tidak menolak meskipun sebenarnya dia belum merasa puas berkencan dengan kekasihnya. Hanya saja dia sadar jika hari sudah sangat sore.
Arya melajukan mobilnya menuju mansion kekasihnya. Mansion Evelyn memang sangat besar, ayahnya bukanlah orang sembarangan dan dia bangga jika seandainya menjadi bagian dari keluarga Evelyn nantinya meskipun sebenarnya keluarganya sendiri juga dari kalangan berada,
"Seharusnya kita meluangkan waktu berdua seperti ini setiap hari." Ucap Arya.
"Aku kelelahan nantinya jika terus seperti ini." Ucap Evelyn yang membuat Arya terkekeh.
Dia mendekatkan wajahnya yang dimengerti oleh Evelyn. Meskipun mereka berada di halaman mansion Evelyn, tapi dia tau jika kaca mobil Arya gelap, untuk itu dia tidak menolak saat Arya mencium bibirnya.
Bukan sebuah ciuman, melainkan sebuah lumatan, dan memang Evelyn sendiri selalu membalasnya.
"Eve, menikahlah denganku." Ucap Arya saat ciuman mereka terlepas.
"Sebentar lagi kita akan lulus, tidak masalah jika kita menikah saat masih kuliah." Ucap Arya tiba-tiba dan jelas saja membuat Evelyn terkejut.
"Aku tidak mau, kau saja belum bekerja dan belum mapan, sudah mengajak anak orang menikah." Tolaknya yang mendorong Arya karena dia tadi ingin menciumnya lagi.
Bagaimanapun Evelyn adalah wanita yang sudah cukup dewasa, dia tau jika ciuman mereka pasti membuatnya terpancing dan akhirnya mungkin buru-buru ingin menikahinya.
"Aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu meskipun aku belum bekerja." Ucap Arya.
"Dengan mengandalkan uang oranh tuamu?" Tebaknya.
"Aku tidak mau! Aku belum tau bagaimana hebatnya dirimu dalam bekerja dan serius dalam bekerja. Ayahku pun tidak akan menyetujuinya meskipun kau dari keuarga kaya." Ucap Evelyn yang membuat Arya akhirnya tidak bisa memaksanya.
Ajakannya menikah memang tadinya keluar saja dari mulutnya karena terpancing dengan ciuman mereka.
Selama mereka menjalin hubungan, sangat jarang sekali Arya bisa mencium Evelyn, untuk itu mungkin dengan menikah dia bisa melakukannya sepuasnya bahkan bisa memilikinya seutuhnya.
"Baiklah, maafkan aku! Setelah lulus nanti. Aku akan bekerja keras dan menunjukkan kepadamu jika aku adalah pria yang pantas untukmu." Ucap Arya.
"Ya, semangatlah bekerja, sekarang aku ingin turun karena aku ingin tidur." Ucap Evelyn yang di angguki oleh Arya.
Dia tersenyum dan cukup senang kebersamaannya dengan Evelyn hari ini.
Saat dia baru masuk ke dalam, Evelyn menyempatkan diri unruk menghubungi ayahnya yang sedari kemaren belum menghubunginya sama sekali.
Ayahnya memang selalu mengangkat teelfon darinya meskipun sesibuk apapun dirinya.
"Iya, Sayang?"
Benar saja, belum sampai beberapa detik, ayahnya sudah mengangkat telefon darinya.
"Aku pikir Daddy tidak ingat padaku." Ucap Evelyn.
"Maaf, Sayang! Mungkin besok Daddy baru pulang." Ucap Asthon sang ayah.
"Baiklah, aku hanya ingin mendengar suara Daddy, aku rindu sekali." Ucap Evelyn.
Asthon menjadi merasa bersalah karena sering meninggalkan Evelyn namun dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
"Daddy akan pulang secepatnya besok." Ucap Asthon.
"Nanti malam aku menginap di mansion Sera, Daddy jangan khawatir." Ucap Evelyn yang tidak mau membuat ayahnya menjadi kepikiran.
"Hm, menginap saja di sana, nanti akan Daddy belikan oleh-oleh dengan temanmu juga." Ucap Asthon yang di iyakan saja oleh Evelyn.
Mereka mengobrol tidak lama karena Evelyn sudah mengantuk dan Asthon sendiri sedang meting bersama kliennya.