Bab 5

1067 Kata
Hari-hari berlalu, Evelyn kini berada di pusat pembelanjaan karena dia ingin membelikan sesuatu untuk ayahnya yang sebentar lagi ulang tahun. "Mencari kemeja untuk siapa?" Tanya seorang pria yang menghampiri Evelyn ketika dia sedang memilih kemeja. Evelyn jelas saja terkejut, yang lebih terkejutnya lagi, yang menyapanya adalah Leon, paman daei Sera, sahabatnya. "P-paman." Evelyn masih saja merasa canggung dan gelisah sendiri jika melihat Leon atau mengobrol dengannya. "Mencari kemeja untuk siapa?" Leon mengulangi pertanyaannya lagi yang membuat Evelyn akhirnya tersadar. "Untuk Daddy." Ucap Evelyn yang dimengerti oleh Leon. "Di mana Sera? Kau tidak bersamanya?" "Sera sedang ada kelas, Paman." "Lalu kau bolos?" Tebaknya yang membuat Evelyn menggaruk dahinya karena memang dia sedang bolos. "Nanti sore Daddy-ku akan pulang, jika aku membeli saat pulang kuliah, waktunya tidak sampai, jadi aku terpaksa bolos." Ucap Evelyn beralasan, "Tidak harus sore untuk memberikan hadiah untuk ayahmu." Ucap Leon. "Aku akan menjemputnya nanti di bandara, aku hanya ingin memberinya kejutan." Ucap Evelyn yanh akhirnya dimengerti oleh Leon. "Paman sendiri kenapa ada di sini?" Tanya Evelyn. "Mencari hadiah untuk Rosa, dia akan ulang tahun satu minggu lagi." Ucap Leon yang membuat Evelyn mengerti. "Karena ada kau di sini, aku meminta tolong kepadamu untuk memilihkan hadiah untuk Rosa, aku tidak begitu tau selera wanita." Ucap Leon yang membuat Evelyn terkejut. "A-aku? Tapi aku juga takut tidak akan sama seleranya dengan Tante Rosa." Ucapnya yang lebih tepatnya dia menolak secara halus, Karena jika dia menerimanya, itu berarti dia harus berduaan lebih lama dengan Leon, dan itu tidak akan baik untuk jantungnya yang menyimpan rasa kepada lelaki tampan di hadapannya ini. "Dia pasti suka, karena kalian sama-sama wanita." Ucap Leon yang seperti memaksa dan akhirnya terpaksa juga Evelyn menyetujuinya karena dia pun tidak memiliki alasan untuk menolaknya. "Sebagai gantinya, aku akan memilihkan kemeja untuk ayahmu." Ucap Leon yang membuat Evelyn tersenyum lebar. "Terima kasih, Paman." Evelyn benar-benar senang. Dia sedari tadi juga bingung mau memilih kemeja yang mana. Leon akhirnya memilihkan bukan hanya kemeja, dia memilihkan lengkap dengan celana dan dasi untuk ayah dari Evelyn. Evelyn sendiri tidak mempermasalahkannya karena dia mendapatkan jatah jajan dari ayahnya sangat banyak dan lebih dari cukup. "Tidak perlu." Leon mencegah Evelyn yang akan membayar belanjaannya. Evelyn terkejut krena Leon yang malah membayar belanjaannya. "Paman, ini banyakk." Ucap Evelyn yang jelas saja merasa tidak enak. "Tidak masalah, anggap saja ini tanda terima kasihku," ucap Leon dengan santainya. "Mana bisa begitu, Paman. Aku tidak bisa menerimanya." Ucap Evelyn yang masih menolak. "Begini saja, terima ini dan sebagai gantinya traktir aku makan." Ucap Leon. "Tidak perlu menolak atau memperpanjangnya, lebih baik kita cepat." Lanjutnya yang membuat Evelyn akhirnya mengiyakannya. Setelah membayar. Mereka menuju toko perhiasan atas saran Evelyn, dia mengira jika semua perempuan pasti suka di beri perhiasan. "Sebenarnya wanita akan senang meskipun di kasih apapun, Paman! Apalagi yang memberinya orang yang kita sayang." Ucap Evelyn. "Hm, aku tau! Aku hanya bingung jika di minta untuk memberikan sesuatu kepada wanita." Ucap Leon. Evelyn hanya diam saja, dia melihat-lihat cincin yang sangat indah. "Aku ingin melihat yang ini." Evelyn menunjuk ke arah cincin yang tidak begitu besar namun ada berlian di sana yang membuat cincin itu menjadi semakin indah. "Ini sangat indah." Ucap Evelyn lalu mempelihatkan cincin itu kepada Leon. Dia mengakui jika cincin itu memang sangat bagus dan indah, apalagi saat cincin itu terpasang di jari putih milik Evelyn. "Cincin itu memang sangat indah dan cocok di jari istri anda, Tuan." Ucap pelayan toko yang membuat Evelyn melotot dan bahkan terbatuk. "Tidak— "Ya, sepertinya memang akan cocok di jari istriku." Leon malah menjawab dengan kata itu yang membuat Evelyn semakin melotot. "Yang dikatakan pelayan itu benar, memang cincin itu untuk istriku, bukan?" Ucap Leon ketika Evelyn melihatnya. "Ah, iya benar!" Evelyn menjadi malu sendiri, dia mengerti jika memang cincin itu untuk Rosa, istrinya. Tapi yang dimaksut pelayan istrinya adalah dirinya karena sekarang yang bersamanya adalah Evelyn. Evelyn tidak berkata lagi, dia hanya menunggu Leon kini membayarnya, namun belum selesai membayar, Leon meminta Evelyn untuk memilihkan perhiasan lagi untuk ibu dan keponakannya. "Oma suka memakai anting, kalau Sera biasanya gelang." Ucap Evelyn. "Hm, tolong pilihkan saja." Ucap Leon yang di angguki saja oleh Evelyn. Seringnya Evelyn di mansionnya, memang membuat dia sangat tau apa kesukaan keluarganya. Bahkan pilihan Evelyn selalu bagus dan Leon mengakui itu. "Kau juga pilihlah! Anggap hadiah dariku juga." Ucap Leon yang membuat Evelyn jelas saja terkejut. "Tidak, Paman! Aku tidak begitu menyukai perhiasan. Tapi terima kasih sudah menawariku." Ucap Evelyn namun Leon mengerutkan dahinya. "Kau bilang semua wanita pasti suka perhiasan. Pilih saja." Ucap Leon memaksa. Entah kenapa dia sangat segan untuk menolaknya karena dari wajah Leon sendiri seperti tidak mau ditolak olehnya. Untuk itu Evelyn lagi-lagi menerimanya dan memilih yang menurutnya dia suka. Setelah selesai dan Leon membayarnya. Mereka keluar dari toko itu. "Apa kau membawa mobil?" Tanya Leon. "Aku membawanya, Paman." "Baiklah, terima kasih sudah membantuku." Ucap Leon yang di angguki oleh Evelyn. "Akulah yang harus berterima kasih, karena Paman aku jadi tidak mengeluarkan uang sepeserpun." Ucap Evelyn sambil menyengir. Leon tersenyum tipis dan mengangguk. Namun sejujurnya senyuman Leon membuat Evelyn malah berdetak dengan cepat. Dia sangat jarang melihat senyum itu, bukan jarang lagi, namun malah hampir tidak pernah karena memang Leon sekaku itu jika di depan semua orang. Mereka akhirnya berpisah, tadinya Leon mengatakan jika dia ingin di traktir oleh Evelyn namun karena Leon sebentar lagi ada meting, dia menjadi menolaknya dan akan menagihnya lain kali saja. Evelyn mengiyakannya karena dia sendiri sebenarnya merasa malu dan akan canggung jika harus makan berdua saja dengan paman sahabatnya ini. ***** Tepat sore hari, Evlyn melajukan mobilnya menuju bandara karena dia sudah ada janji dengan ayahnya untuk menjemputnya. Sebenarnya Asthon menolak dan tidak ingin menganggu anaknya, namun Evelyn memaksa yang membuat Asthorn akhirnya menerimanya. Saat di bandara, Evelyn langsung berlari kecil saat melihat ayahnya. Begitupun dengan Asthon yang tersenyum melihat putri kecilnya. "Putri keciil Daddy, rindu sekali, padahal hanya tiga hari." Ucap Asthon yang membuat Evelyn terkekeh. "Aku sudah besar, Dad!" Balasnya lalu merubah wajahnya menjadi cemberut. "Bagiku kau tetap putri kecil Daddy." Ucap Asthon yang mencium kening putrinya. Mereka akhirnya pergi dari sana dan langsung masuk ke dalam mobil. "Selamat ulang tahun, Daddy." Ucap Evelyn yang memberikan paperbag kepada ayahnya. Asthon tersenyum karena putrinya yang memberikan dia hadiah dan memang selalu ingat dengan ulang tahunnya. "Terima kasih, Sayang." Asthon ingin membuka yang diberikan putrinya namun Evelyn mencegahnya. "Nanti saja, Dad. Sekarang pulang dulu." Ucapnya yanh membuat Asthon tertawa. "Baiklah-baiklah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN