Malam harinya, Evelyn menjemput Sera karena mereka ingin pergi ke suatu tempat yang biasa mereka datangi.
"Astaga." Gumam Evelyn terkekeh begitupun dengan Sera karena saat masuk ke dalam club, mereka sudah di suguhkan dengan pemandangan tidak senonoh, di mana ada yang sedang berciuman dan ada juga yang sudah menanggalkan pakaiannya.
"Bukannya di sini ada kamar? Mereka seharusnya melakukannya di kamar saja." Omelnya namun tetap saja dipandangi olehnya.
"Mereka ingin fantasi lain mungkin." Ucap Evelyn dengan asal.
"Lagi pula kenapa kau masih melihatnya. Jika kau ingin. Di sana banyak gigolo. Pilih saja!" Lanjutnya.
"Sinting!" Omel Sera yang membuat Evelyn terkekeh.
Mereka duduk dan memesan minuman seperti biasa.
"Ingat! Jangan sampai mabuk." Ucap Evelyn memperingati karena biasanya yang sering mabuk duluan adalah Sera.
"Jika mabuk, bawa aku ke mansionmu saja. Nanti aku akan menghubungi Opa dan Oma jika aku menginap di mansionmu." Ucap Sera.
"Dari saranmu sepertinya kau memang berencana untuk mabuk." Ucap Evelyn yang membuat Sera terkekeh.
"Tergantung nanti." Jawabnya.
Evelyn dan Sera benar-benar menikmati waktu mereka berdua.
Mereka tidak sadar ketika ada sepasang mata yang sedang menatap tajam ke arah mereka.
"Keponakanmu dengan siapa?" Tanya Ryan.
"Temannya. Nakal sekali mereka!" Leon geram karena baru tau jika keponakannya berada di club dan sepertinya ini bukan yang pertama kali.
"Mereka sudah besar! Jangan terlalu di kekang. Biarkan saja mereka menikmati masa muda mereka. Seperti dulu kau dan Rosa tidak begitu saja." Ucap Ryan.
Leon memang tadinya sedang bersama temannya di club karena Rosa belum pulang, dia yang sudah lama tidak pergi bersama teman-temannya akhirnya menerima ajakannya. Namun dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan keponakannya di sini bersama temannya.
"Mereka tidak bersama laki-laki. Jadi biarkan saja." Ucap Lucas yang juga membela para wanita itu.
Leon menghela nafas panjangnya dan akhirnya membiarkannya. Niat hati ingin melepaskan penat dan mengobrol dengan teman-temannya, kini Leon harus menjaga dua wanita nakal ini.
"Dia masih bermusuhan dengan kakakmu?" Tanya Ryan yang di angguki oleh Leon.
"Dia sangat membencinya. Tidak salah juga! Karena memang ayahnya yang bersalah sampai membuat ibunya mengalami serangan jangung dan akhirnya meninggal." Ucap Leon.
"Aku terkadang kasihan dengannya, bagaimana jika dia aku ambil menjadi istri pertamaku saja," ucap Ryan teraenyum namun Leon menatap tajam
Ke atahnya.
"Ayolah! Umurku sama denganmu, kau sendiri dengan keponakanmu hanya berbeda 7 tahun, tidak terlalu tua. Aku akan membahagikannya dan kau akan menjadi pamanku." Ucap Ryan tertawa namun Leon mengambil pistolnya.
"Ck! Kau ini apa tidak bisa di ajak bercanda."
Ucap Ryan yang mencegah Leon mengeluarkan pistolnya.
Para petinggi atau orang penting memang banyak yang memiliki pistol untuk berjaga-jaga dirinya sendiri.
"Mereka memesan minum beralkohol." Ucap Lucas memberitahu.
Tak lama ada beberapa lelaki yang menghampiri Evelyn dan Sera yang membuat Leon terkejut dan masih memperhatikannya.
Leon akhirnya menghampiri mereka ketika melihat para pria itu menawarkan minuman kepada Sera dan Evelyn dan bodohnya lagi mereka menerimanya.
"Pergi!" Leon mengusir para pria itu namun mereka masih tidak mau pergi.
Leon ingin mengambil pistolnya yang membuat mereka jelas saja terkejut dan memilih untuk pergi dari sana.
Sedangkan Evelyn dan Sera tadinya sangat terkejut melihat Leon ada di sini dan bahkan menghampirinya.
"P-paman kenapa ada di sini?" Sera dengan bodohnya malah bertanya kepada pamannya.
"Sejak kapan kalian bermain ke club seperti ini?" Bukannya menjawab Leon malah berbalik bertanya karena dia yakin jika ini bukan yang pertama kalinya.
"H-hanya satu kali." Jawabnya.
"Pintarlaj jika bermain ke club seperti ini dan jangan sembarangan menerima minuman atau apapun dari pria asing! Bagaimana jika minuman itu mereka campurkan sesuatu." Omelnya yang membuat Sera diam saja.
Sedangkan Evelyn sendiri juga hanya diam saja dan menunduk, selain takut, dia juga tidak mau melihat wajah paman sahabatnya yng terlihat marah dengan mereka.
"Pulang!" Ucap Leon yang akhirnya mereka mengangguk.
Bahkan saat mereka pulang, Leon juga terpaksa pulang dan mengikuti mereka dari belakang. Padahal dia berencana ingin mengobrol dan minum dengan teman-temannya sampai pagi karena besok adalah hari libur.
Evelyn juga ikut pulang ke mansionnya dan Leon tidak mempermasalahkannya karena memang dia sangat sering tidur dengan Sera bahkan semenjak mereka masih sekolah.
Leon tau jika Evelyn hanya tinggal dengan ayahnya dan bahkan sering ditinggal sendirian karena kepentingan bisnisnya.
Untuk itu Evelyn selalu menginap jika ayahnya tidak di rumah.
"Tidur kalian! Sudah malam." Ucap Leon yang di angguki oleh mereka.
Mereka tidak berani berbicara lagi karena Leon sepertinya memang marah.
"Pamanmu tidak seru!" Ucap Evelyn yang kini mengomel di kamarnya.
"Dia hanya melindungi kita, lagi pula beruntung tadi ada paman, kita mana tau kalau ada yang ingin berbuat jahat kepda kita dengan minuman." Ucap Sera.
"Aku berencana ingin mabuk!" Ucap Evelyn yang masih kesal dan belum puas saat Leon meminta mereka untuk pulang.
"Cih! Kau tadi mengatakan kepadaku jika aku tidak boleh mabuk, tapi kau sekarang malah ingin mabuk." Ucap Sera.
Evelyn hanya diam saja namun dia tetap kesal karena paman sahabatnya ini menganggu kesenangan mereka.
Seharusnya Leon meminta mereka berhati-hati saja. Bukan malah memintanya untuk pulang.
Sedangkan di kamar, Rosa mengerutkan dahinya karena suaminya pulang dengan cepat.
"Katanya ingin bertemu Lucas dan Ryan?" Tanya Rosa yang abru keluar dari kamar mandi.
Dia sendiri sebenarnya juga baru pulang dari pekerjaan luarnya. Suaminya sudah kengabarinya jika dirinya bertemu dengan teman-temannya dan mungkin akan pulang malam atau bahkan pagi, Rosa mengizinkannya karena memang Leon sering pulang pagi jika sudah bersama teman-temannya.
"Hm, mereka juga ada kepentingan dadakan. Jadi kami pulang saja." Ucap Leon membuka bajunya.
Dia melihat istrinya dengan berpakaian yang sek-si. Dia akhirnya mendekati istrinya dan sepertinya akan menyenangkan jika sebagai gantinya dia akan bermain dengan istrinya.
"Sayang! Jangan sekarang. Aku baru pulang. Kemaren kn juga sudah." Rosa menolak krena memang dia sangat lelah untuk hari ini.
"Tumbens ekali kau menolakku." Ucap Leon.
"Tidak sering bukan? Jadi besok saja ya." Ucap Rosa yang membuat Leon tersenyum dan mengangguk.
"Besok akan kubuat kau muntah berkali-kali." Godanya.
"Sebelum kau membuatku muntah, mungkin kau sudah lemas duluan." Sindirmya. Mendengar perkataan suaminya. Rosa hanya bisa tertawa karena memang yang dikatakan Leon benar.
Bagaimana tidak! Suaminya sangat liar jika di atas ranjang, bahkan sebelum dia bisa membuat Leon muntah, Rosa sudah dibuat muntah lebih dulu berkali-kali oleh suaminya.