Zea duduk termenung di dekat jendela kamar. Airmatanya masih belum mengering karena terus saja mengalir karena teringat mendiang Elvan. Tatapan kosong Zea menunjukkan kehilangan yang amat besar dalam dirinya. Seakan tidak sanggup lagi menahan rasa sesak di d**a. Haruki, Harumi, bahkan Yuza sudah mencoba menghibur Zea tapi sia-sia. Wanita itu masih bersedih. Dari ambang pintu kamar, Pandu berdiri menatapnya. "Makanannya gak di sentuh." Kepala Haruki menggeleng. Pandu menghela napas panjang dan mengambil nampan yang dipegang Haruki. Semua orang telah mencoba membujuk wanita itu untuk makan walaupun sedikit tapi tidak ada yanng berhasil. Tunggal Pandu harapan satu-satunya. Di tangan Pandu kini ada senampan makanan yang sejak pagi belum disentuh oleh Zea. Langkahnya dengan pasti mendekat,

