Giana terbangun dengan perasaan aneh. Matanya masih setengah tertutup, tubuhnya masih terasa lemas, tapi ada satu hal yang langsung membuat dadanya mengencang. Sisi ranjang di sebelahnya kosong. Tidak ada berat tubuh Mark. Tidak ada lengan yang biasanya melingkar di pinggangnya. Tidak ada napas tenang yang biasanya ia dengar setiap kali bangun. Jantung Giana langsung berdegup lebih cepat. “Mark…?” panggilnya pelan, suaranya serak karena baru bangun tidur. Tidak ada jawaban. Giana membuka mata sepenuhnya dan mengangkat tubuhnya dengan susah payah. Ranjang itu benar-benar kosong. Bantal Mark masih ada, tapi sudah dingin. Selimut di sisi itu terlipat rapi, seolah Mark bangun dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya. Namun pikiran Giana tidak berjalan sejauh itu. Dadanya langsu

