Mark menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Mesin masih menyala ketika ia melepaskan sabuk pengamannya. Pandangannya beralih ke Giana yang sejak tadi memeluk tasnya sambil menatap ke depan dengan wajah jelas tidak senang. “Masuk dulu,” ujar Mark sambil membuka kancing jasnya sedikit. “Aku harus balik ke perusahaan.” Giana menoleh cepat. “Sekarang?” “Iya. Ada laporan yang harus aku tanda tangani malam ini.” Wajah Giana langsung berubah. Bibirnya mengerucut, alisnya menurun. “Padahal tadi kamu janji…” “Janji apa?” Mark meliriknya. “Nonton film,” jawab Giana ketus. “Kamu bilang malam ini.” Mark menghela napas pelan, lalu mengusap wajahnya sebentar. “Aku nggak nyangka urusannya mendadak.” Giana memalingkan wajah ke arah jendela. “Kamu selalu begitu,” gumamnya. Mark diam beber

