Malam di Seoul turun perlahan, seperti tirai raksasa yang ditarik dengan lembut dari langit. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, membentuk lautan cahaya yang berkilau, hidup, dan terasa hangat meski udara dingin menyelinap di sela-sela jaket. Mark menggenggam tangan Giana erat ketika mereka melangkah keluar dari hotel, seolah malam itu bukan sekadar waktu, melainkan pengalaman yang ingin ia pastikan tak akan pernah dilupakan istrinya. Giana menengadah, menatap langit yang gelap dengan mata berbinar. Seoul di malam hari terasa berbeda. Lebih romantis. Lebih intim. Lebihh jujur. Angin malam menyentuh pipinya, membuatnya refleks mendekat ke Mark. Tanpa diminta, Mark langsung merangkul bahu Giana, menariknya ke sisi tubuhnya. “Kita ke mana?” tanya Giana, suaranya lembut, penuh rasa

