Hawa dingin dari pendingin ruangan di ruang makan mewah keluarga Dirgantara masih menyisakan sisa-sisa ketegangan yang membeku, bahkan setelah denting gelas kristal terakhir mereda. Perjamuan malam yang dipenuhi kepalsuan itu baru saja berakhir, meninggalkan aroma anggur merah yang pekat dan rasa mual yang mengaduk perut Seraphina. Di sisi lain, Bianca melangkah keluar dari kediaman itu dengan langkah yang jauh lebih ringan, seolah-olah setiap ubin marmer yang ia injak adalah saksi atas kemenangannya yang kian mendekat. Ia sempat melirik spion mobilnya, menatap gerbang megah rumah Bramantyo yang perlahan tertutup, lalu senyum miring tersungging di bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala. Ia tahu, perjamuan tadi hanyalah pembukaan, sebuah panggung sandiwara di mana Bramantyo bertindak

