Perjamuan Malam yang Canggung.

1237 Kata

​Lampu kristal di ruang makan utama kediaman Dirgantara berpendar dengan kemegahan yang menipu, memantulkan cahaya pada deretan alat makan perak dan gelas-gelas kristal yang tertata sempurna di atas taplak meja linen putih. Aroma masakan Prancis yang mewah—perpaduan antara truffle, daging panggang premium, dan anggur merah yang baru saja dibuka—seharusnya membangkitkan selera makan siapa pun yang duduk di sana. Namun, bagi mereka yang mengisi kursi-kursi berukir itu, udara di ruangan tersebut terasa begitu kaku dan berat, seolah-olah setiap partikel oksigen telah digantikan oleh ketegangan yang nyaris kasat mata. Bramantyo duduk di kepala meja dengan setelan jas santai namun berwibawa, wajahnya memancarkan kepuasan seorang pria yang merasa telah berhasil menyusun kembali kepingan hidupnya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN