Angin sore di Jakarta dua belas tahun yang lalu berhembus membawa debu dan aroma aspal panas yang mulai mendingin setelah guyuran hujan singkat. Di depan gerbang sekolah internasional yang megah, deretan mobil mewah terparkir rapi, menunggu anak-anak para penguasa kota keluar dari kelas mereka yang nyaman. Di antara hiruk-pikuk itu, Seraphina Azkadina yang kini berusia dua belas tahun melangkah dengan kepala tertunduk. Seragam putih-birunya yang mahal tampak sedikit kusut, dan tas punggung bermerek yang tersampir di bahunya terasa lebih berat daripada tumpukan buku di dalamnya. Namun, yang paling membebani Sera bukanlah pelajaran sejarah atau matematika, melainkan tatapan tajam dan bisikan berbisa yang selalu mengikutinya di sepanjang lorong sekolah. Sera adalah putri seorang konglomera

