Raungan mesin Mercedes-Benz S-Class itu membelah kesunyian malam Jakarta seperti jeritan iblis yang terlepas dari belenggu neraka terdalam. Alaric tidak lagi memedulikan etika berkendara, keselamatan umum, atau bahkan nyawa siapa pun yang berada di jalur lintasannya. Jarum speedometer terus merangkak naik dengan brutal, melewati angka 140, 160, hingga menyentuh batas kegilaan di atas aspal jalanan protokol yang masih licin pasca rintik hujan sisa sore tadi. Di dalam kabin yang kedap suara namun terasa menyesakkan oleh ketegangan yang pekat, atmosfer seolah-olah membeku menjadi kristal-kristal tajam yang siap melukai siapa saja yang berani bernapas terlalu keras. Alaric mencengkeram lingkar kemudi dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang-tulang jemarinya sendiri; guratan urat menonjo

