Dunia Seraphina Azkadina seolah-olah menyempit menjadi titik-titik cahaya yang berpendar tidak fokus di atas balkon hotel mewah itu. Aroma parfum maskulin Kaivan yang lembut dan segar berada begitu dekat dengan indra penciumannya, sebuah kontras yang nyata dari aroma tembakau dan kekuasaan yang biasanya mendominasi ruang napasnya. Sera memejamkan mata, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sedang bebas, bahwa ia sedang memegang kendali atas hidupnya sendiri dengan membiarkan pria lain mendekat. Namun, tepat saat ia merasakan hangatnya napas Kaivan yang mulai menyapu permukaan kulit lehernya—sebuah antisipasi yang seharusnya membawa debar manis namun justru memicu lonceng peringatan di balik benaknya—sebuah getaran dahsyat merobek kesunyian malam. Suara hantaman itu bukan sekadar b

