Gema suara napas yang memburu di antara mereka masih memenuhi udara yang terasa berat di koridor pintu masuk, namun kemarahan Alaric baru saja mencapai titik didih yang paling destruktif. Matanya, yang gelap dan tajam seperti mata elang yang tengah mencabik mangsa, menatap lurus ke dalam manik mata Seraphina Azkadina yang berair. Pintu kayu jati yang tadi terbuka sedikit kini ditendang oleh Alaric dengan tumit sepatunya hingga terbanting menutup dengan suara dentuman yang menggetarkan dinding. Bunyi kunci otomatis yang mengunci secara elektrik terdengar seperti vonis penjara bagi Sera. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh kerlip lampu gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik jendela kaca raksasa, suasana berubah menjadi sangat mencekam. Alaric tidak lagi menghimpitnya dengan

