Gigil di Balik Kaca.

1252 Kata
​Langit Jakarta seolah sedang mengumpulkan amarah yang luar biasa sejak jam baru menunjukkan pukul dua siang. Gumpalan awan kumulonimbus yang hitam pekat berarak rendah, menelan cahaya matahari dan mengubah suasana kota menjadi remang mencekam. Di lantai dua puluh dua apartemen The Azure, Seraphina Azkadina Dirgantara berdiri mematung di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jantung kota. Ia baru saja sampai dari kampus, namun tubuhnya terasa seolah baru saja dipukuli habis-habisan. ​Sera memeluk dirinya sendiri, merasakan hawa dingin yang mulai menyusup ke balik pori-porinya. Napasnya mulai terasa panas, setiap embusan udara dari hidungnya terasa seperti uap yang membakar. Ia tahu, demam ini bukan sekadar efek cuaca. Tekanan mental akibat pengawasan ayahnya yang berlebihan, ditambah keputusannya untuk sengaja membiarkan dirinya kehujanan saat menuju parkiran kampus tadi, mulai membuahkan hasil. '​Duar!' ​Suara guntur meledak di kejauhan, menggetarkan kaca-kaca tebal apartemennya. Sera tersentak pelan, namun ia tidak beranjak. Matanya yang mulai berair karena panas menatap ke bawah, ke arah jalanan protokol yang kini mulai dipadati kendaraan yang merayap. Ia tahu, dalam hitungan jam, Jakarta akan lumpuh. Badai ini akan menjadi tirai yang menutup dunianya dari pengawasan luar, menyisakan ia dan obsesinya yang kini membara lebih panas dari suhu tubuhnya sendiri. ​Ponsel di atas meja marmer bergetar hebat. Sera melirik layar tanpa minat. Nama "Bramantyo Dirgantara" berkedip di sana, diikuti oleh deretan notifikasi pesan singkat. Ayahnya pasti sedang cemas di bandara sebelum terbang ke Zurich. Sera membiarkan ponsel itu bergetar hingga mati sendiri. Ia sedang tidak ingin mendengar suara otoritas ayahnya yang selalu mengatur setiap langkahnya. Ia ingin menghilang sejenak, menciptakan kekosongan yang akan memaksa ayahnya mencari bantuan pada satu-satunya orang yang dipercayainya: Alaric Valerius. ​Rasa pening di kepala Sera semakin menjadi-jadi, seolah ada godam yang menghantam tengkoraknya secara ritmis. Ia melangkah tertatih menuju dapur, mencoba mengambil segelas air dingin untuk meredakan tenggorokannya yang terasa kering dan gatal. Namun, baru saja ia memegang gagang kulkas, sebuah gelombang mual yang hebat menghantamnya. Sera terengah, memegangi pinggiran meja dapur agar tidak jatuh. ​"Hanya sebentar lagi ... kamu harus bertahan sedikit lagi, Sera," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya terdengar parau dan asing di telinganya. ​Pintu apartemennya berbunyi, suara interkom dari lobi bawah. Sera menekan tombol view dengan tangan gemetar. Wajah petugas keamanan apartemen muncul di layar monitor. ​"Selamat sore, Non Seraphina. Maaf mengganggu, supir dari keluarga Dirgantara sudah berada di lobi. Katanya Non diperintahkan untuk segera pulang ke kediaman utama karena cuaca buruk dan kondisi Non yang dilaporkan sedang tidak sehat," ucap petugas itu dengan nada sangat sopan. ​Sera memejamkan mata, menahan amarah yang bergejolak. Ayahnya benar-benar tidak pernah menyerah. "Katakan padanya aku tidak akan pulang. Aku sudah di dalam apartemen, aman dan terkunci. Aku hanya butuh istirahat. Jangan biarkan dia naik," jawab Sera ketus sebelum memutus sambungan interkom itu dengan kasar. ​Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini panggilan dari nomor yang tidak ia kenal, kemungkinan besar supir ayahnya yang mencoba membujuknya. Sera meraih ponsel itu, namun bukannya menjawab, ia justru menekan tombol off secara paksa hingga layar hitam pekat itu memantulkan wajahnya yang pucat dengan pipi yang memerah tidak sehat. ​Ia kembali berjalan menuju jendela. Hujan kini turun dengan intensitas yang mengerikan. Suara hantaman air pada kaca terdengar seperti suara ribuan peluru yang menuntut masuk. Jakarta mulai menghilang di balik tirai air kelabu. Di dalam apartemen yang luas itu, Sera merasa begitu kecil dan ringkih, namun di saat yang sama, ia merasa sangat berkuasa atas skenario yang ia ciptakan. ​"Non Sera? Apakah Anda baik-baik saja?" Sebuah suara kembali terdengar, kali ini dari asisten rumah tangga gedung yang bertugas mengantar pesanan makanan. Rupanya ayahnya bahkan sempat memesankan makanan sehat untuk dikirim ke kamarnya. ​Sera tidak membukakan pintu. Ia hanya bersandar di balik daun pintu jati yang kokoh itu. "Tinggalkan saja di depan pintu! Aku ingin tidur! Jangan ganggu aku lagi atau aku akan melaporkan kalian karena mengusik privasiku!" teriaknya dengan sisa tenaga yang ada. ​Terdengar langkah kaki yang menjauh. Sera merosot perlahan di balik pintu. Rasa dingin dari lantai marmer mulai menyerang punggungnya, namun ia justru merasa nyaman. Ia merasa tubuhnya seperti sedang direbus dari dalam. Ia mencoba berdiri, namun keseimbangannya mulai hilang. Pandangannya berputar-putar. Objek di dalam ruangan itu—sofa, lampu gantung, lukisan—seolah menari dan berubah bentuk. ​Ia berpikir tentang rumah sakit. Sejenak, rasa takut yang tulus muncul. Bagaimana jika demam ini terlalu tinggi? Bagaimana jika ia kehilangan kesadaran sebelum Alaric sampai? Namun, pikiran itu segera ditepis oleh kebenciannya pada jarum suntik dan bau obat-obatan yang membawanya kembali pada memori kematian ibunya. Ia membenci rumah sakit. Baginya, rumah sakit adalah tempat di mana orang-orang yang ia cintai pergi dan tidak pernah kembali. ​"Tidak akan ... aku tidak akan ke sana," racau Sera. ​Ia mulai menggigil hebat. Giginya bergemeletuk tanpa bisa ia kontrol. Inilah fase rigor yang paling ia takuti, namun juga ia butuhkan. Ia butuh kondisi ini untuk menunjukkan pada Alaric betapa seriusnya keadaan ini. Ia ingin Alaric merasa berdosa karena sempat mengabaikan tugas menjaganya. Ia ingin pria itu merasa bahwa hanya dialah satu-satunya pelindung yang dimiliki Sera di dunia ini. ​Sera menyeret tubuhnya menuju kamar mandi, berpikir bahwa membasuh wajah dengan air biasa mungkin akan sedikit membantunya tetap sadar. Ia melewati ruang tamu yang gelap, hanya diterangi oleh kilatan petir yang menyambar-nyambar dari luar. Setiap kilatan itu memperlihatkan ruangan yang kosong dan sunyi, mencerminkan kesepian yang selama ini Sera rasakan di balik kemewahan hidupnya. ​Ia berhasil mencapai area kamar mandi. Ia memandang cermin di bawah cahaya temaram lampu darurat yang menyala otomatis karena daya listrik gedung mulai tidak stabil. Wajah di cermin itu tampak hancur. Matanya merah, bibirnya pecah-pecah, dan keningnya berkeringat dingin. Sera menyentuh kulit wajahnya sendiri; rasanya sangat panas, seolah-olah ia sedang menyentuh permukaan kompor yang menyala. ​"Kamu berantakan, Sera," gumamnya sambil tersenyum miris. ​Ia mencoba menyalakan keran, namun tangannya terlalu lemah untuk memutar tuas besi itu. Ia bersandar di dinding keramik yang dingin, membiarkan kepalanya terkulai. Rasa kantuk yang sangat berat mulai menyerang kesadarannya. Ia tahu, ini bukan kantuk biasa. Ini adalah tanda bahwa tubuhnya mulai menyerah. ​Di luar sana, badai Jakarta semakin mengganas. Angin menderu melalui celah-celah kecil bangunan, menciptakan suara siulan yang ngeri. Jakarta benar-benar lumpuh malam ini. Dan di tengah kelumpuhan kota itu, Sera berada di ambang batas kesadarannya. Ia menolak bantuan, ia menolak supir ayahnya, ia menolak rumah sakit. Ia menutup semua pintu keluar, hanya menyisakan satu celah bagi Alaric Valerius untuk masuk. ​Sera mulai merosot kembali ke lantai. Ia tidak lagi peduli apakah ia akan ditemukan dalam keadaan hidup atau mati, selama orang yang menemukannya adalah Alaric. Baginya, rasa sakit fisik ini adalah satu-satunya bahasa yang akan dimengerti oleh pria sedingin Alaric. Ia sedang mempertaruhkan nyawanya demi sebuah momen di mana Alaric tidak akan punya pilihan selain menyentuhnya, memeluknya, dan menjaganya. ​"Datanglah, Om ... kumohon ...," bisik Sera sebelum penglihatannya benar-benar tertutup oleh kegelapan yang pekat. ​Kesunyian di dalam apartemen itu kini hanya diisi oleh suara hujan yang menderu dan napas Sera yang tersengal. Badai telah mengunci segalanya. Dan di tengah badai itu, seorang gadis sedang menunggu takdirnya dijemput oleh pria yang paling ia puja sekaligus ia benci. Rencananya sudah dijalankan, dan kini, ia hanya bisa berharap bahwa Alaric Valerius tidak akan membiarkan "anak" sahabatnya ini mati sendirian di tengah dinginnya marmer apartemen mewah tersebut. ​Sera benar-benar tidak menyadari bahwa di saat yang sama, ponsel Alaric di kantor pusat sedang berdering kencang, membawa berita kepanikan dari ayahnya yang akan segera meruntuhkan seluruh ketenangan sang CEO.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN