Lampu neon di langit-langit kantor pusat Valerius Group berpendar dengan intensitas yang kaku, memantul di atas permukaan meja kaca hitam yang bersih dari segala noda. Di luar, Jakarta sudah tidak lagi terlihat seperti kota; ia telah berubah menjadi lautan abu-abu yang ditelan oleh tirai air yang masif. Alaric Valerius berdiri tegak di depan jendela kaca raksasanya, kedua tangannya tersembunyi di dalam saku celana bahan mahalnya. Alur rahangnya mengeras, menciptakan garis tajam yang mempertegas ekspresi dinginnya. Namun, di balik topeng ketenangan itu, ada sesuatu yang bergejolak—sesuatu yang sangat jarang dirasakan oleh pria dengan kontrol diri setinggi Alaric: kegelisahan yang tidak beralasan.
Pikiran Alaric seharusnya tertuju pada laporan kuartal ketiga yang baru saja diserahkan oleh tim auditnya, atau mungkin pada strategi akuisisi lahan di Kalimantan yang sedang berada di tahap krusial. Namun, sejak satu jam yang lalu, fokusnya telah tercuri oleh suara hantaman hujan yang semakin liar menabrak dinding kacanya. Ia melihat bagaimana pohon-pohon besar di taman kota jauh di bawah sana bergoyang hebat, hampir tumbang ditiup angin kencang yang kecepatannya mungkin melampaui batas aman. Dalam kondisi normal, Alaric akan memerintahkan semua karyawannya pulang lebih awal dan melanjutkan pekerjaannya sendiri dalam kesunyian. Tapi hari ini, kesunyian adalah musuh terbesarnya.
Ponsel pribadinya yang terletak di atas meja kerja tiba-tiba bergetar, memecah keheningan ruangan yang luas itu. Alaric tidak perlu menoleh untuk menebak siapa yang menghubunginya. Hanya ada satu orang yang memiliki keberanian untuk mengusik waktunya berkali-kali dalam satu malam. Ia melangkah perlahan menuju meja, mengambil ponsel itu, dan melihat nama "Bramantyo Dirgantara" berkedip dengan nada urgensi yang seolah memancar dari layar.
"Ya, Bram. Aku sedang melihat badainya dari sini. Kamu sudah mendarat?" Alaric menjawab dengan suara bariton yang dalam, mencoba menjaga agar nada bicaranya tidak menularkan kecemasan yang entah mengapa mulai merayapi tengkuknya.
"Aku masih transit di Singapura, Ric. Penerbanganku tertunda karena cuaca buruk di Zurich, tapi itu bukan masalahnya sekarang," suara Bramantyo terdengar pecah oleh distorsi sinyal dan kebisingan bandara internasional. "Ric, aku punya firasat buruk. Sera ... dia tidak bisa dihubungi sama sekali."
Alaric mengernyitkan dahi. Ia menarik kursi kulitnya dan duduk, mencoba mencari posisi yang lebih nyaman meski seluruh tubuhnya terasa kaku. "Mungkin dia sedang tidur, Bram. Kamu sendiri yang bilang dia sedang lelah setelah pindahan."
"Tidak, ini berbeda. Aku sudah menyuruh supirku, Gunawan, untuk mengeceknya ke apartemen. Gunawan baru saja meneleponku dengan suara ketakutan. Katanya, Sera menolak membukakan pintu. Dia berteriak dari dalam bahwa dia ingin dibiarkan sendiri dan dia merasa sakit, tapi setelah itu ponselnya mati total. Gunawan bilang suara Sera terdengar sangat lemah dan parau, Ric." Suara Bramantyo bergetar, sebuah tanda bahwa pria itu benar-benar berada di ambang kepanikan. "Aku mencoba menghubungi layanan gedung, tapi mereka bilang akses ke unit Sera dibatasi atas permintaan penghuninya sendiri. Sera sedang keras kepala, Ric. Dia menutup semua akses!"
Alaric mengetukkan jemarinya di atas meja jati. Sakit? Kata itu bergema di telinganya. Ia teringat percakapannya semalam dengan Bramantyo, di mana ia diminta menjaga Sera seperti anak sendiri. Ia sempat mengabaikan tugas itu karena merasa tidak etis mendatangi apartemen gadis lajang di tengah malam, namun sekarang, logika bisnisnya mulai bertabrakan dengan rasa tanggung jawab moralnya.
"Gunawan masih di sana?" tanya Alaric pendek.
"Dia tertahan di lobi. Pihak keamanan tidak mengizinkan siapa pun naik tanpa izin dari pemilik unit, dan Sera tidak menjawab interkom. Ric, kumohon ... kamu satu-satunya yang punya otoritas atas namaku. Aku sudah mengirimkan email resmi ke manajemen gedung bahwa kau memiliki hak akses darurat untuk putriku. Tolonglah, Ric. Badainya semakin parah. Aku takut terjadi sesuatu padanya di dalam sana tanpa ada yang tahu."
Alaric memijat pangkal hidungnya. Ada pertarungan batin yang hebat di dalam dirinya. Di satu sisi, ia membenci drama keluarga seperti ini. Baginya, Sera adalah gadis dewasa yang seharusnya bisa mengelola emosinya sendiri tanpa harus melibatkan seluruh imperium bisnis ayahnya. Namun di sisi lain, bayangan wajah Sera yang polos saat masih kecil mulai menghantui pikirannya. Ia teringat bagaimana Sera selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan setiap kali Bramantyo sedang sibuk.
"Aku akan berangkat sekarang, Bram," ucap Alaric akhirnya, suaranya terdengar lebih seperti janji pada dirinya sendiri.
"Terima kasih, Ric. Tolong ... jika dia benar-benar sakit, bawa dia ke rumah sakit. Jangan dengarkan penolakannya. Aku tidak peduli jika dia marah padaku nanti, yang penting dia selamat."
Alaric menutup telepon tanpa memberikan janji lebih lanjut. Ia berdiri, menyambar jas hitamnya yang tersampir di kursi. Napasnya mulai memburu sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia berjalan menuju pintu keluar ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti saat matanya melirik ke arah monitor CCTV kantornya yang menunjukkan area parkir basemen. Air mulai masuk ke area basemen bawah. Jakarta benar-benar sedang dilumpuhkan oleh alam.
Kegelisahan Alaric kini bertransformasi menjadi semacam dorongan protektif yang asing. Ia merasa terhina oleh pikirannya sendiri yang mendadak sangat peduli pada nasib Seraphina. Ini hanya karena Bramantyo, pikirnya mencoba membela diri. Hanya karena amanah sahabat. Namun, ia tidak bisa membohongi getaran halus di tangannya saat ia memasukkan kunci mobil ke saku jasnya.
Ia keluar dari ruangannya, melewati meja Marco yang masih sibuk dengan tumpukan dokumen. "Marco, batalkan semua agenda malam ini. Jika ada telepon dari Zurich atau konsorsium mana pun, katakan aku sedang ada urusan darurat yang tidak bisa diganggu."
Marco mendongak, tampak terkejut melihat bosnya yang biasanya selalu pulang paling akhir kini tampak sangat terburu-buru dengan wajah yang tegang. "Apakah ada masalah serius, Pak?"
"Sangat serius," jawab Alaric pendek tanpa menoleh.
Alaric melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Di dalam ruang lift yang sempit dan berdinding cermin itu, Alaric menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang pria yang biasanya memiliki kendali penuh atas hidupnya, kini tampak sedikit goyah. Ia merapikan dasinya yang sebenarnya sudah sempurna. Ia merasa udara di dalam lift itu terlalu tipis. Pikirannya melayang pada Sera. Bagaimana jika gadis itu benar-benar jatuh pingsan? Bagaimana jika ia mengalami syok atau sesuatu yang lebih buruk?
Ia membenci ketidaktahuan. Dan saat ini, ketidaktahuan tentang kondisi Sera adalah siksaan terbesar baginya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam. Ia memikirkan perjalanan menuju Senopati yang pasti akan memakan waktu lama karena banjir dan macet.