Dinginnya lantai marmer di apartemen pribadi itu seolah meresap langsung ke dalam sumsum tulang Seraphina, namun rasa beku itu masih kalah tajam dibandingkan kekosongan yang melubangi dadanya. Sudah berhari-hari ia kehilangan jejak waktu. Cahaya matahari yang menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra kelabu hanya menjadi pengingat bahwa dunia di luar sana tetap berputar dengan angkuh, tidak peduli pada satu nyawa yang sedang sekarat dalam sunyi. Sera menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang tengah—cermin yang dulu sering menangkap bayangan Alaric yang berdiri di belakangnya, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Sera, dan membisikkan kata-kata posesif yang kini terasa seperti racun. Sosok di dalam cermin itu bukan lagi Seraphina Azkadina yang ceria. Tulang pipinya kini menonj

