Lampu-lampu kota Jakarta yang biasanya tampak seperti hamparan berlian dari ketinggian lantai dua puluh lima apartemen itu kini hanya terlihat seperti titik-titik cahaya yang buram, tertutup oleh lapisan debu tipis di jendela dan kabut tebal di mata Seraphina Azkadina. Sudah tujuh hari sejak konfrontasi berdarah di ruang makan rumah Dirgantara—tujuh hari sejak Alaric Valerius melangkah pergi dengan wajah tanpa cela, meninggalkan Sera dalam kondisi yang lebih buruk daripada kematian. Sera tidak kembali ke kampusnya. Ia tidak menjawab panggilan cemas dari ayahnya, Bramantyo, yang mengira putrinya hanya sedang mengalami fase "ingin sendirian" setelah tekanan ujian. Sebaliknya, Sera melarikan diri ke satu-satunya tempat yang seharusnya menjadi perlindungannya, namun kini berubah menjadi altar

