Rasa Khawatir Alaric

1038 Kata

​Lampu-lampu darurat di koridor lantai dua puluh dua gedung The Azure berpendar redup, memberikan nuansa kuning yang sakit di atas karpet tebal yang membentang sunyi. Alaric Valerius berdiri di depan pintu unit 2205 dengan napas yang memburu, paru-parunya terasa panas seolah-olah ia baru saja berlari maraton menembus badai. Jas mahalnya yang basah kuyup terasa berat menempel di bahunya, meneteskan sisa-sisa air hujan Jakarta ke lantai marmer yang bersih. Di belakangnya, Manajer Gedung yang tampak pucat pasi dan Gunawan, supir setia Bramantyo, berdiri dengan kecemasan yang sama besarnya. ​"Cepat buka pintunya!" perintah Alaric, suaranya menggelegar di koridor yang sepi, menekan setiap suku kata dengan otoritas yang tidak menerima bantahan. ​Manajer gedung itu gemetar saat mencoba menempel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN