Ia melirik ponselnya yang diletakkan di dasbor. Tidak ada pesan baru dari Sera. Panggilan terakhir dari Bramantyo sepuluh menit lalu masih terngiang di telinganya—suara seorang ayah yang berada di ambang kehancuran mental. Bramantyo memercayainya. Bramantyo meletakkan nyawa putri satu-satunya di pundak Alaric. Dan di sinilah Alaric, terjebak dalam labirin air dan logam, tidak mampu bergerak lebih dari sepuluh meter dalam lima belas menit.
Kilatan petir menyambar, menerangi wajah Alaric yang tampak seperti pahatan batu granit yang keras dan dingin. Cahaya putih itu sesaat memperlihatkan pemandangan kota yang mengerikan; pohon-pohon peneduh jalan bertumbangan, papan reklame yang robek tertiup angin kencang, dan orang-orang yang berjalan kaki dengan air setinggi pinggang, berjuang mencari tempat berteduh. Suasana kota benar-benar lumpuh, seolah-olah peradaban modern telah runtuh dalam semalam hanya karena amukan langit.
Alaric mengambil keputusan nekat. Ia memutar kemudi ke arah kiri, menaiki trotoar yang cukup tinggi dengan ban besar mobilnya, dan masuk ke jalur berlawanan yang terlihat sedikit lebih kosong karena genangan airnya yang lebih tinggi. Ia tidak peduli jika tindakannya melanggar hukum atau merusak suspensi mobil miliaran rupiahnya.
Mesin SUV itu menderu, membelah air yang menyembur ke samping seperti ombak kecil. Alaric bisa merasakan getaran mesin yang berjuang melawan hambatan air yang mulai menyentuh bagian bawah mesin. Ia terus memacu kendaraannya, melewati gang-gang sempit yang ia harapkan bisa menjadi jalan pintas. Di dalam kabin yang kedap suara, Alaric mencoba mengatur napasnya. Ia mencoba merasionalkan segalanya. Sera hanya demam, pikirnya. Dia mungkin hanya butuh obat penurun panas dan tidur yang cukup. Namun, ingatan tentang suara Sera yang lemah dalam laporan supir ayahnya terus menghantui pikirannya.
Ada sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab pada Bramantyo yang mendorong Alaric malam ini. Ada sebuah tarikan primitif yang ia coba tekan selama bertahun-tahun. Sera bukan lagi gadis kecil yang lugu. Sera adalah wanita muda yang tahu persis bagaimana cara menatapnya dengan tatapan yang menantang batas-batas moral Alaric. Setiap kali mereka berada dalam satu ruangan, ada ketegangan yang tidak terucap, sebuah frekuensi gairah yang Alaric coba tutupi dengan sikap dingin dan kaku. Dan malam ini, dalam kegelapan badai, pertahanan itu mulai retak.
Ia teringat aroma vanilla yang selalu menguar dari kulit Sera setiap kali gadis itu berada cukup dekat dengannya. Aroma yang sangat manis namun mematikan bagi kewarasan Alaric. Ia membayangkan Sera yang kini mungkin sedang menggigil, memanggil namanya dalam kesunyian apartemen mewah itu. Pikiran itu membuat jantung Alaric berdegup lebih kencang, sebuah ritme yang tidak ada hubungannya dengan adrenalin menyetir di tengah banjir.
Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu lima belas menit kini telah mencapai satu jam. Alaric akhirnya mencapai kawasan Senopati. Jalanan di sini jauh lebih tenang karena posisinya yang lebih tinggi, namun sisa-sisa badai masih sangat terasa. Angin kencang mengguncang mobilnya berkali-kali. Ia melihat beberapa tiang listrik mengeluarkan percikan api sebelum padam sepenuhnya, menambah kegelapan yang mencekam.
Ia berbelok masuk ke area gerbang The Azure. Petugas keamanan yang berjaga di pos depan tampak kewalahan menghadapi angin dan hujan, namun saat melihat mobil Alaric, mereka segera membukakan palang. Alaric memarkir mobilnya secara sembarang tepat di depan lobi utama yang megah. Ia tidak memedulikan apakah ia menghalangi akses atau tidak.
Alaric keluar dari mobil tanpa menggunakan payung. Dalam sekejap, jas mahalnya basah kuyup, menempel di tubuhnya yang tegap dan memperlihatkan garis-ototnya yang keras. Air hujan yang dingin menusuk kulitnya, namun panas di dalam dadanya justru semakin membara. Ia melangkah masuk ke lobi dengan langkah yang mengintimidasi. Gunawan, supir Bramantyo, segera berlari menghampirinya dengan wajah pucat pasi.
"Pak Alaric! Syukurlah Bapak sampai. Non Sera... dia tidak menjawab sama sekali sejak setengah jam lalu. Kami sudah mencoba interkom, tapi tidak ada balasan. Pihak manajemen ragu untuk mendobrak karena prosedur privasi," lapor Gunawan dengan suara bergetar.
Alaric tidak menjawab. Matanya yang tajam menatap manajer gedung yang baru saja mendekat. "Aku Alaric Valerius. Buka pintu unit 2205 sekarang. Aku punya surat kuasa darurat dari Bramantyo Dirgantara. Jika terjadi sesuatu pada putri sahabatku karena kalian terlalu lamban dengan prosedur, aku akan memastikan gedung ini rata dengan tanah besok pagi."
Ancaman itu tidak main-main. Aura yang dipancarkan Alaric begitu gelap dan berbahaya sehingga manajer gedung itu tidak berani membantah. "Baik, Pak. Petugas kami sudah siap dengan kunci cadangan dan kartu akses darurat. Mari, Pak."
Mereka bergegas menuju lift. Di dalam lift yang bergerak naik dengan cepat, Alaric menatap angka lantai yang berganti di layar digital. Jantungnya berpacu seirama dengan dentingan lift. Ia menyeka air hujan dari wajahnya dengan gerakan kasar. Ia merasa sangat marah—marah pada cuaca, marah pada kelambanan orang-orang di sekitarnya, dan terutama marah pada dirinya sendiri karena ia merasa begitu takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya.
Lift berhenti di lantai dua puluh dua. Begitu pintu terbuka, Alaric langsung melesat keluar, mendahului petugas keamanan yang memegang kunci. Ia sampai di depan pintu unit 2205 dan langsung menggedornya dengan kepalan tangan.
"Sera! Buka pintunya! Sera!" teriaknya. Suaranya bergema di koridor yang sunyi.
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara angin yang melolong dari balik dinding kaca koridor. Petugas keamanan segera menempelkan kartu akses. Terdengar bunyi klik yang menandakan kunci elektronik telah terbuka. Alaric tidak menunggu petugas itu memutar gagang pintu; ia mendorong pintu jati itu dengan bahunya, masuk ke dalam apartemen yang gelap gulita.
Bau udara di dalam apartemen terasa sangat panas dan pengap, seolah-olah oksigen telah habis terbakar. Alaric menyalakan senter dari ponselnya, menyisir ruangan tamu yang sunyi. Ia melihat tas Sera tergeletak di lantai, sepatu hak tingginya berserakan. Semuanya menunjukkan bahwa gadis itu masuk dalam keadaan yang sangat lemah.
"Sera! Kamu di mana?" Alaric berjalan dengan cepat menuju area kamar utama, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap bayangan di lantai di depan pintu kamar mandi.
Cahaya senternya jatuh tepat pada sosok Sera yang meringkuk. Jantung Alaric seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menjatuhkan ponselnya begitu saja ke atas karpet dan berlari menuju gadis itu.
Suasana kota di luar sana mungkin sedang lumpuh karena badai, namun di dalam ruangan ini, bagi Alaric Valerius, seluruh dunianya baru saja hancur saat ia melihat tubuh ringkih yang selama ini ia puja diam-diam tergeletak tak berdaya. Ketegangan perjalanan tadi kini berubah menjadi kepanikan yang tidak biasa—sebuah emosi yang akan menyeretnya masuk ke dalam dosa yang paling dalam di sisa malam yang panjang ini.
Alaric berlutut di samping Sera, tangannya yang gemetar menyentuh pipi gadis itu. Panas yang menyengat segera merambat ke telapak tangannya, mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh sarafnya. Di tengah kegelapan apartemen dan deru badai yang masih menderu di luar, Alaric menyadari bahwa perjalanan paling sulit dalam hidupnya baru saja dimulai. Bukan perjalanan menembus banjir, melainkan perjalanan menembus batas antara kasih sayang seorang pelindung dan nafsu seorang pria dewasa.