Kegelapan di dalam kamar utama unit 2205 kini terasa begitu absolut, seolah-olah dunia luar telah sepenuhnya terhapus oleh tirai hujan yang tak kunjung usai. Listrik cadangan gedung tampaknya mulai menyerah; hanya ada kilatan petir yang sesekali merobek langit Jakarta, memberikan pencahayaan singkat yang dramatis melalui jendela kaca raksasa, memperlihatkan siluet dua raga yang sedang berada di ambang takdir baru. Alaric berdiri membeku di sisi ranjang, napasnya berat dan tidak beraturan. Pakaian mahalnya kini telah menjadi tumpukan kain tak berharga di lantai marmer, meninggalkan dirinya hanya dalam balutan celana bahan, bertelanjang d**a, menampakkan otot-otot yang menegang sempurna di bawah kulitnya yang basah oleh sisa air hujan dan keringat dingin. Di depannya, Seraphina Azkadina t

