Suara detak jam di dinding kamar itu seolah-olah berubah menjadi dentuman palu yang menghantam kesadaran Alaric Valerius. Di luar, hujan tidak lagi sekadar turun; ia menderu, menghantam kaca jendela dengan kemarahan yang konsisten, seakan-akan ingin ikut masuk dan menyaksikan apa yang akan terjadi di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya temaram lampu darurat ini. Alaric berlutut di tepi ranjang, tubuhnya yang tegap dan bertelanjang d**a memancarkan aura ketegangan yang begitu pekat. Keringat dingin mengalir di sela-sela otot punggungnya, bukan karena suhu ruangan yang panas—karena sebenarnya AC apartemen masih berfungsi dengan daya cadangan—melainkan karena gejolak batin yang sedang menghancurkan setiap lapisan pertahanan moral yang ia miliki. Tangannya yang besar kembali berg

