Pagi di Jakarta seharusnya membawa kesegaran setelah hujan semalam, namun bagi Alaric Valerius, udara di lantai eksekutif Menara Valerius terasa seberat timah. Ia berdiri di depan jendela kaca raksasa yang menyajikan panorama beton Sudirman yang angkuh, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada grafik saham atau ekspansi energi terbarukan yang menjadi agenda utama direksi hari ini. Rasa bersalah itu segera tertelan oleh kebutuhan posesifnya yang purba terhadap Sera. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir sisa-sisa aroma vanilla dan bayangan rintihan Sera di dalam Rolls-Royce malam itu—sebuah kenangan yang kini telah menjadi candu sekaligus racun mematikan dalam aliran darahnya. Tiba-tiba, interkom di mejanya berbunyi. Suara Amara terdengar dingin, datar, dan sepenuhn

