Hening yang menyelimuti lantai teratas Valerius Tower seketika pecah oleh suara deru napas yang memburu dan gesekan kain sutra yang kasar pada dinding kaca. Alaric Valerius, pria yang selama ini dikenal sebagai personifikasi dari kontrol diri yang absolut, kini telah kehilangan pegangan pada kenyataan moralitasnya. Ciuman yang bermula di dinding kaca itu berpindah, bergerak liar seiring dengan langkah Alaric yang menyeret tubuh Seraphina kembali menuju pusat kekuasaannya: meja kerja jati berukuran raksasa yang selama ini ia anggap sebagai altar suci integritasnya. Tangannya yang besar mencengkeram pinggang Sera dengan posesif, merasakan getaran halus dari tubuh gadis itu yang seolah-olah sedang menantang maut sekaligus memujanya di bawah cahaya temaram lampu kantor. Sera merintih dalam

