Hening yang menyelimuti ruang kerja di lantai teratas Valerius Tower itu bukan lagi hening yang menenangkan, melainkan kesunyian yang sarat akan daya ledak tinggi, seperti udara yang dipenuhi gas yang hanya menunggu satu percikan kecil untuk meluluhlantakkan segalanya. Alaric Valerius berdiri membatu, napasnya terasa pendek dan panas, sementara jemari Seraphina masih melilit dasi sutranya dengan keanggunan yang menyiksa. Di bawah cahaya lampu kristal yang berpendar redup, meja jati yang biasanya menjadi saksi bisu keputusan-keputusan bisnis bernilai triliunan rupiah kini menjadi panggung bagi sebuah pembangkangan yang paling vulgar sekaligus paling indah yang pernah Alaric saksikan. Sera, yang duduk di atas meja dengan gaun sutra tipis yang tersingkap hingga menampakkan paha porselennya

