Malam Jakarta yang pengap oleh sisa hujan sore tadi terasa seperti jubah hitam yang membungkus Mercedes-Benz putih milik Seraphina Azkadina. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, hanya ada deru napas Sera yang teratur namun dingin, serta aroma parfum Black Opium yang tajam—aroma yang sangat kontras dengan wangi melati lembut yang dulu selalu dipuja Alaric. Sera mencengkeram kemudi dengan jemari yang kini dihiasi cat kuku berwarna hitam pekat, sehitam lubang di dadanya yang ditinggalkan oleh pengkhianatan sang Titan. Cahaya lampu merkuri jalanan meluncur di atas kaca depan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di wajahnya yang kini tertutup riasan tebal. Ia tidak lagi merasakan gemetar. Ketakutan, rasa malu, dan kepolosan yang semalam membuatnya meraung di lantai kamar mandi telah

