Langkah kaki Seraphina Azkadina yang ditopang oleh stiletto hitam setinggi dua belas sentimeter itu terasa ringan namun menghujam, seperti dentuman palu hakim yang sedang menjatuhkan vonis mati atas masa lalunya. Suara gesekan sol sepatu dengan lantai marmer yang mengilat itu nyaris tenggelam oleh dentuman frekuensi rendah dari musik techno yang menggetarkan dinding The Abyss. Sera tidak lagi menoleh ke belakang. Ia telah meninggalkan sisa-sisa bidadari yang hancur di kursi bar tadi, membiarkan gadis polos itu hanyut bersama sisa es batu di gelas Martininya. Sekarang, yang tersisa hanyalah bayang-bayang seorang wanita yang membawa bara api di dalam dadanya, melangkah mantap menuju area VIP yang terletak di lantai dua, wilayah kekuasaan para pendosa yang memiliki nama besar. Sera menaiki

