Di luar sana, badai Jakarta telah mencapai fase puncaknya; langit tidak lagi hanya sekadar mendung, melainkan pecah berkeping-keping oleh sambaran kilat yang datang bertubi-tubi, menerangi kamar utama itu dengan cahaya biru pucat yang dingin secara periodik. Namun, kontras dengan kedinginan di luar, di dalam kungkungan selimut sutra yang berat, suhu telah melampaui batas kewarasan manusia. Alaric, dengan segala otoritas dan pengalaman hidup yang ia miliki, kini berdiri di puncak kendali yang sangat kejam. Ia sedang memainkan sebuah permainan psikologis dan fisik yang sangat berbahaya—sebuah permainan godaan di ambang batas. Ketegangan di antara kedua raga itu telah mencapai titik jenuh, sebuah tegangan listrik yang begitu tinggi hingga setiap sentuhan kecil terasa seperti ledakan. Alaric

