Keheningan di dalam kamar utama unit 2205 telah berubah menjadi sebuah vakum yang menyesakkan, di mana setiap suara—bahkan detak jantung terkecil sekalipun—terdengar seperti dentuman drum di tengah kesunyian yang sakral dan berdosa. Di luar sana, badai Jakarta masih terus mengamuk, mengirimkan kilatan cahaya elektrik yang menembus celah gorden, memberikan ilusi gerakan yang terputus-putus pada dua raga yang sedang bergelut di atas ranjang. Namun, bagi Alaric, dunia telah menyusut hanya seluas kasur sutra ini. Fokusnya kini berada pada titik yang paling primitif dan absolut: memastikan bahwa Seraphina Azkadina benar-benar siap untuk penaklukan total yang akan mengubah garis takdir mereka selamanya. Alaric menarik napas dalam-dalam, paru-parunya kini dipenuhi oleh aroma vanilla yang semak

