Keheningan yang merayap di dalam kamar setelah ledakan gairah yang menghancurkan itu terasa jauh lebih pekak dan berat daripada suara guntur yang baru saja membelah langit Jakarta. Di bawah cahaya lampu tidur yang meremang kekuningan, suasana terasa begitu sakral sekaligus penuh dosa—sebuah paradoks yang menyelimuti raga Alaric Valerius dan Seraphina Azkadina dalam keheningan yang menyesakkan. Mereka terbaring dalam kondisi yang benar-benar lelah, raga yang baru saja melintasi badai gairah yang menghancurkan itu kini berkilau oleh peluh yang menyatu, menciptakan aroma perpaduan maskulin yang tajam dan vanilla yang manis di udara yang lembap. Alaric masih belum beranjak; ia tetap membiarkan tubuhnya yang besar menjadi pelindung sekaligus penjara bagi Sera, menolak melepaskan kontak fisik y

